Menjadi orang tua di era teknologi seperti sekarang ini memang banyak
tantangannya. Di satu sisi jika kita memberikan akses teknologi
(gadget) pada anak-anak di bawah umur resikonya cukup besar, mulai dari
paparan informasi yang belum layak mereka konsumsi sampai pada berbagai
game yang bisa menyebabkan kecanduan. Di sisi yang lain jika kita
menutup akses tersebut maka anak kita beresiko menjadi cupu di kalangan
teman-teman sebayanya.
Itu juga yang sempat dialami oleh anak kami, Arya. Seringkali saat
dia berkumpul dengan saudara atau teman sebayanya, dia hanya bisa
menonton keseruan mereka bermain gadget.
Melihat hal tersebut akhirnya kami mengalah dan memberikan Arya
kesempatan menggunakan gadget dengan akses terbatas, baik menyangkut
konten dan waktu pemakaiannya.
Masalah mulai timbul saat Arya ingin mengunduh game yang sedang hits
di kalangan teman-temannya sementara kontennya tidak lolos verifikasi
kami. Beberapa kali hal tersebut terjadi, hingga muncul pertanyaan
kenapa pembuat game tersebut tidak membuat game seru yang sesuai untuk
anak-anak.
Pertanyaan tersebut pun memunculkan pertanyaan susulan, apakah
anak-anak bisa membuat game sendiri yang sesuai dengan imajinasi mereka?
Sementara yang kami tahu untuk membuat game diperlukan kecakapan
programming komputer dengan bahasa pemrograman yang rumit.
Karena penasaran kamipun mulai mencari informasi di internet. Setelah
menyelam kesana kemari akhirnya kami temukan beberapa bahasa
pemrograman yang dirancang khusus untuk anak-anak dimana dengan bahasa
tersebut anak-anak bisa membuat berbagai karya termasuk membuat game
sendiri. Hahaha.. kemana aja kami selama ini?
Kami akan bahas satu persatu bahasa pemrograman tersebut di artikel berikutnya.
Selamat menikmati.
0 comments:
Post a Comment